Aktivis Migrant Care Wahyu Susilo menilai sistem perburuhan di Indonesia sangatlah rentan dari praktik perbudakan terselubung. "Baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sistem perburuhan kita sangat rentan, itu sudah sangat terlihat dari Indeks Global Perbudakan 2013," ujar Wahyu, Ahad, 20 Oktober 2013.
Wahyu menanggapi penelitian dari Walk Free Foundation, salah satu lembaga asal Australia, yang terangkum dalam Global Index Slavery. Dalam penelitian itu, Indonesia menempati peringkat ke-114 sebagai negara dengan praktek perburuhan modern. Jumlahnya mencapai 210ribu orang Indonesia hidup dan bekerja sebagai budak.
"Indeks Global Perbudakan itu bisa menjadi acuan untuk memonitor apakah hak-hak pekerja sudah memenuhi kriteria yang layak atau belum," ujar Wahyu.Sektor pekerjaan yang layak perbudakan, lanjut Wahyu, itu mencakup pekerja rumah tangga, buruh pabrik dan buruh perkebunan, serta perikanan.
Wahyu juga mengatakan penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri merupakan contoh dari praktek trafficing dan perbudakan secara nyata. Menurutnya, para tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri dan bekerja sebagai buruh kasar ataupun rumah tangga, biasanya terjerat utang dan berada dalam situasi eksploitasi di negara yang tanpa perlindungan.
"Tepatnya serupa trafficking dan perbudakan modern seperti yang dirangkum dalam Indeks Global itu," kata Wahyu. "Bentuk ideal migrasi ternaga kerja adalah kebebasan atau freedom voluntary migration. Tapi yang terjadi di Indonesia adalah forced migration atau migrasi yang dilakukan karena terpaksa."
Wahyu menyarankan kepada Kemnakertrans untuk memberikan pengawasan kepada para pekerja paksa yang terjerumus dalam perbudakkan terselubung.
